Lingkungan Ekonomi Syariah

Mohammad Suyanto

Abstract


Secara etimologi, syariah berarti peraturan atau ketetapan yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, seperti shoum, shalat, haji zakat dan seluruh kebajikan. Allah SWT berfirman, Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariah (aturan) dari urusan (agama) itu (Qardhawi, 1990). Syari’ah  berasal dari akar kata syara’a yang berarti memperkenalkan atau mengedepankan atau menetapkan atau menerangkan atau menjelaskan sesuatu. Syaria’ah merupakan sistem hukum yang didasarkan pada wahyu, atau juga disebut syara’ atau syir’ah. Syari’ah juga berarti hukum Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis dan dikembangkan melalui prinsip-prinsip analisis empat mazhab fiqh Islam, yaitu mazhab Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Maliki, bersama mazhab Ja’fari untuk kalangan Syi’ah. (Cyril Glasse,1996). Dasar Syariah adalah kebijaksanaan dan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Kemaslahatan ini terletak pada keadilan, kasih sayang, kesejahteraan dan kebijaksanaan yang sempurna. Apapun yang menyimpang dari keadilan pada penindasan, dari kasih sayang pada kekerasan, dari kesejahteraan pada kemiskinan, dan dari kebijaksanaan pada kebodohan adalah sama sekali tidak ada kaitannya dengan syariah (Ibnul Qayyim, 1955).
    Dengan demikian Ekonomi Syariah adalah ekonomi yang beroperasi dengan menggunakan hukum Islam, yang dasarnya keadilan, kasih sayang, kesejahteraan dan kebijaksanaan atau anti penindasan, anti kekerasan, anti kemiskinan dan anti kebodohan. Hal ini sesuai dengan Pasal 33 UUD 1943, yaitu kebersamaan dan kekeluargaan (mutuality & brotherhood) serta partisipatory and emansipatory (Swasono, 2004). Bank dan Keuangan Syariah pada sepuluh tahun terakhir tumbuh 15 % setiap tahun yang melebih pertumbuhan Bank maupun institusi keuangan yang ada di pasar modal global, berada di lebih dari 75 negara dengan asset sekitar 200 milyar dolar Amerika (Yawer, 2002).

Refbacks

  • There are currently no refbacks.